Kamis, 23 Oktober 2014

SBY Mengaku Lanjutkan 5 Cita-Cita Gus Dur


Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memberikan sabutan saat acara puncak haul ke-4 Gus Dur di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, Jawa Timur, Jumat (3/1/2013) malam. (JIBI/Solopos/Antara/Syaiful Arif) 

HAUL GUS DUR

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memberikan sabutan saat acara puncak haul ke-4 Gus Dur di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, Jawa Timur, Jumat (3/1/2013) malam. (JIBI/Solopos/Antara/Syaiful Arif) 
 
Solopos.com, JOMBANG — Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengaku melanjutkan 5 cita-cita K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Di hadapan jemaah haul atau peringatan wafat ke-4 Gus Dur di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, Jumat (3/1/2014) malam, SBY mengungkapkan ingatannya atas pemikiran fundamental Gus Dur yang ia terima semasa menjadi menteri mendiang presiden ke-4 Republik Indonesia itu.

Lima pemikiran fundamental Gus Dur itu disampaikan SBY saat memberikan sambutan haul atau peringatan wafat ke-4 ulama besar yang juga mantan presiden tersebut. “Lima pemikiran besar beliau hampir semuanya masih relevan, hampir semuanya ini menjadi amanah dan agenda sepanjang masa,” kata Yudhoyono.

Kepala Negara hadir dalam puncak haul itu dengan didampingi Ibu Negara Ani Yudhoyono. Rombongan kepala negara itu disambut langsung oleh K.H. Solahuddin Wahid, adik Gus Dur yang juga pengasuh Ponpes Tebuireng, serta istri mendiang Gus Dur, Shinta Nuriyah Abddurrahman Wahid.

Menurut SBY, ke-5 pemikiran fundamental Gus Dur yang tak lekang zaman itu merupakan intisari dari pembicaraannya secara pribadi dengan Gus Dur saat dirinya menjadi menteri presiden ke-4 Republik Indonesia tersebut.

Pertama, kata Yudhoyono, Gus Dur menginginkan agar Indonesia menjadi negara majemuk yang rukun. 

Kedua, beliau sangat gigih dan bahkan mengawali era kepresiden untuk menghilangkan diskriminasi dengan alasan apa pun. Saya sekarang melanjutkan apa yang dicita-citakan, ini sangat penting,” kata Presiden.

Ketiga, Gus Dur mengharapkan peran masyarakat yang partisipatif dan mengurangi peran negara yang dominan. Menurut Presiden, saat ini, memang sudah tidak lagi berada dalam sistem otoritarian. Namun, ia menyayangkan masih adanya pola pikir otoriter dalam masyarakat. Untuk itu, menurut SBY, masyarakat perlu terus didorong untuk partisipatif mengurangi peran dominan negara.

Keempat, negara tidak boleh mengontrol pikiran rakyatnya. “Bagi masyarakat yang sudah matang dan arif menggunakan haknya, negara memberikan ruang kepada mereka karena masyarakat sudah matang,” katanya.

Menurut SBY, dalam masyarakat yang telah matang, warga negara menyadari batas-batas kebebasannya. Kendati demikian, imbuhnya, pada masa transisi selalu ada ekses dalam mengekspresikan kebebasan itu.

Kelima, lanjut SBY, Gus Dur menginginkan hubungan sipil dan militer yang sehat. “Masing-masing mengerti di mana domainnya,” kata Presiden.

Ini berarti, jelas SBY, militer tidak boleh mendominasi sipil. Namun, sipil juga harus mengetahui batas-batas wilayahnya. Dia lalu mencontohkan militer yang tidak boleh memaklumatkan perang. Perang hanya boleh dinyatakan oleh presiden dan dengan persetujuan DPR. Namun, pada saat perang, militerlah yang melakukan operasi perencanaan dan serangan, sipil tidak boleh mencampuri.

Kehadiran SBY dalam haul ke-4 Gus Dur sempat disambut demonstrasi mahasiswa. Demonstrasi mahasiswa yang digelar sebagai upaya menolak pencitraan politik partai dengan memanfaatkan haul ulama besar Nahdlatul Ulama itu digelar pada siang hari. Aktivitas ribuan warga yang memadati Pondok Pesantren Tebuireng pada Jumat malam semata-mata terpusat pada prosesi puncak haul berupa doa dan tahlil yang dipimpin K.H. Masduqi Al Hafidz.

http://www.harianjogja.com/baca/2014/01/04/haul-gus-dur-sby-mengaku-lanjutkan-5-cita-cita-gus-dur-479345

Tidak ada komentar: