Sabtu, 20 Februari 2016

Lesbumi PBNU #1

Yang pertama kali membuat cerita bahwa Islam disampaikan dengan kekerasan di Nusantara, seperti kisah pemberontakan Demak ke Majapahit tidak lain adalah Kolonial Belanda. Ini yang mengawali pandangan negatif terhadap Islam muncul. Pandangan ini pertama kali muncul adalah pada tahun 1815, ketika terjadi pemberontakan Sepoy. Prajurit Inggris yang berasal dari Rajkot, India yang banyak dihuni oleh kalangan Hindu berhaluan keras, disusupkan kedalam keraton-keraton. Mereka mempengaruhi Sunan Pakubuwono IV dan terus berusaha mempengaruhi para pangeran Jawa. Mereka menyampaikan bahwa “Nasib Jawa ini menjadi hancur adalah dikarenakan memeluk Islam. Jika dibandingkan dengan jaman Majapahit, yakni ketika Jawa masih memeluk Hindu, maka Majapahit menjadi kerajaan besar. Sedangkan sekarang peperangan selalu terjadi dan tidak bisa maju”.

Para pangeran yang merasa tertindas oleh Belanda banyak yang lantas terpengaruh hasutan ini. Awal kebencian terhadap Islam pun dimulai. Situasi ini dimanfaatkan oleh para misionaris di Surakarta, Mangkunegaran dll. Hal inilah yang oleh para sarjana Belanda dikemas bahwa penolakan terhadap Islam oleh orang Jawa merupakan bentuk resistensi lokal terhadap agama Islam. Hal ini salah besar, karena keadaan tersebut terbentuk sebagai salah satu dampak pemberontakan Sepoy, bukan muncul dengan sendirinya. Sebelum peristiwa itu tidak pernah terjadi, termasuk tak ada pembagian Islam abangan dll. Semua terjadi belakangan.

Setelah perang Diponegoro, (karena para pengikutnya masih sulit dihancurkan) maka oleh Belanda dibikinlah kitab Babad Kediri, yaitu babad yang ditulis dengan cara yang sangat tidak lazim, yakni berdasarkan cerita orang yang sengaja dibikin trans (kesurupan) dan lantas didokumentasi.

Demikian juga Serat Darmogandul, yang ditulis oleh seorang dari Pati bernama Abdullah yang karena kemiskinannya lalu murtad dan dibina Collen di Mojowarno (Jombang) dan selanjutnya berdakwah di Kediri. Dia lantas mencuplik bagian-bagian dalam Babad Kediri dan lalu menyusunnya dalam bentuk tembang berjudul Serat Darmogandul, dimana isinya tak lain adalah berusaha mendiskreditkan Islam, terutama Walisongo seperti Sunan Giri dan Sunan Bonang. Contohnya, dalam sebuah dialog dalam serat itu, disebutkan Sunan Giri ditanya, “Bagaimana prabu Brawijaya, apa bisa ditangkap?” Sunan Giri menjawab, “Brawijaya sebaiknya disantet saja!”. Begitulah Darmogandul mencoba mem-black campaign para Walisongo. Dan demikian juga dengan isi Suluk Gatoloco, secara substansi tidak jauh berbeda.

Selain itu juga dikenal ada Kronik Cina Klenteng Sam Poo Kong, dimana disebutkan bahwa Walisongo sejatinya adalah orang-orang dari Cina yang sengaja dikirim oleh kaisar Cina untuk datang ke Jawa dengan tugas utama menggulingkan kerajaan Majapahit lewat dakwah Islam. Disebutkan di sana bahwa Sunan ampel bernama asli Bong swi Ho, sunan Kalijogo bernama asli Oe sam Ik, Sunan Bonang nernama asli Bon Ang, sunan Gunung Jati bernama Jatik Sun dan seterusnya. Semua itu adalah cerita fiktif yang sengaja diciptakan untuk maksud pengaburan dan mematahkan perlawanan para pengikut Diponegoro.

Padahal jika ditelusuri naskah yang konon katanya diambil di Klenteng Sam Poo Kong, Semarang itu dilakukan oleh residen Poortman yang menggerebek kelenteng dan mendapatkan 5 cikar (pedati) kronik. Menurut informasi dokumentasi kronik itu disimpan di salah satu museum di Den Haag. Ketika dicari naskah itu ternyata tidak ada. Cerita tentang Kronik Sam Poo Kong adalah karangan kolonial. Bahkan jika ditelusuri lebih dalam di Arsip Nasional, ternyata makin jelas: tidak dikenal nama Residen Poortman.

Celakanya tidak sedikit diantara masyarakat kita juga mempercayai isi dari naskah-naskah tersebut hingga sekarang. Bahkan baru-baru ini mantan presiden RI B.J.Habibie pun sempat menyampaikan hal serupa. Silahkan lihat link berita berikut. http://m.kaskus.co.id/thread/55a114c896bde6ad698b4568/habibie-hadiah-terbesar-bangsa-cina-ke-indonesia-adalah-islam/1.

Ada lagi yang lain, beredar video seorang ustadz yang berceramah dan mengarang dongeng bahwa Wali Songo adalah utusan Khalifah Turki. Isi cerita itu tampak untuk membangun asumsi bahwa yg berjasa menyebarkan dakwah lslam di Nusantara adalah khilafah. Yg bikin iba, tanpa malu dia memaparkan nasab orang secara ngawur tanpa dasar rujukan apa pun. Dusta sejarah seperti ini yang justru bikin malu umat lslam karena akan jadi bahan tertawaan kalangan ilmuwan, akademisi dan praktisi sejarah.
 
 
Lembaga Seni dan budaya muslimin Indonesia

Tidak ada komentar: