Senin, 14 Juli 2014

Masjid Girigondo, Masjid Penyimpan Banyak Cerita

Harianjogja.com, KULONPROGO-Ingin bernapak tilas sekaligus mendalami agama? Masjid Puro Pakualaman Girigondo, Pedukuhan Girigondo, Desa Kaligintung, Kecamatan Temon, Kulonprogo yang menyimpan banyak cerita ini dapat menjadi alternatif.

Tidak pernah ada yang tahu persis kapan bangunan seluas 450 meter persegi yang didirikan di atas tanah 5.000 meter persegi ini dibangun. Dari papan yang terletak di sebelah masjid tertulis 1927, namun banyak orang meyakini bangunan ini sudah ada sejak awal 1900. Masjid ini menyimpan nilai sejarah karena menjadi satu kesatuan dengan kompleks permakaman Astana Girigondo yang menjadi lokasi wisata religi. Di kompleks makam itulah KGPAA Pakualam V sampai VIII beserta istri dimakamkan.

Masjid yang memiliki daya tampung hingga 200 orang ini berjarak 10 kilometer dari Kota Wates. Keunikan lainnya terletak pada bangunan asli yang tetap dipertahankan bentuk dan coraknya, sekalipun telah berkali-kali direnovasi. Salah satunya, bangunan utama berupa joglo yang masih berdiri terdiri dari empat saka atau tiang kayu jati.

Sekretaris Takmir Masjid Puro Pakualaman Girigondo Imamsuri mengungkapkan, dahulu masjid Puro Pakualaman Girigondo merupakan kantor yang berfungsi serupa dengan balaidesa, sehingga semua kegiatan pemerintahan dilakukan di sana.

Bahkan, ketika ada kabar duka dari Pakualaman, utusan akan datang menemui pegawai di kantor tersebut. “Ciri khas utusan itu pakaiannya serba putih dan datang dengan berjalan kaki untuk melaporkan dan memerintahkan penggalian liang kubur. Dari utusan tersebut, masyarakat sudah tahu jika ada yang meninggal,” jelasnya beberapa waktu lalu.

Masjid Girigondo itu juga berfungsi sebagai kantor penewu atau Kantor Urusan Agama (KUA). 

Pelaksanaan ijab kabul pasangan pengantin dilakukan di masjid tersebut. Tidak hanya sebagai tempat yang berkaitan dengan keagamaan, masjid ini juga menjadi saksi perjuangan bangsa. Hal ini tampak dari migrab atau ruangan bagi imam yang dibuat tertutup. Tujuannya, untuk mengantisipasi serangan Belanda pada masa itu. 

Tidak ada komentar: