Selasa, 24 Desember 2013

Penerawangan Batin Ideology

Dolo waktu aku puasa senin kamis dan puasa mutih 3 hari pas waktunya kurang lebih10 tahun yang lalu tersirat bisikan suara sang aku idolakan dia berkata dengan lantang, "saudara saudara" tahukah anda mengapa warna bendera Indonesia berwarna merah putih? merah melambangkan angka 1 putih angka 3 jika digabungkan menjadi angka 13 kata bapa proklamator tercinta.

Arti warna dalam dunia kebatinan : 1. Merah 2. Kuning 3. Putih 4. Hijau 5. Biru Semenjak itu aku bisa melihat bayangan alam gaib, mendengar malaikat sedang mencambuk sang durhaka dengan suara yang memberi seruan apa yang telah kamu perbuat selama didunia cetar ceter ih serem. Namun hingga kini aku belum mengerti sepenuhnya akan arti hidup, percaya ga percaya.

Dari dasar nafsu maksud pengartiannya sebagai berikut :

Melihat burung terbang bebas, namun aktif dalam kebahagiaan. Cahaya yang menerangi pohon tanda seorang pemimpin sedang berangan menggembalakan ternak, berpikir tentang tanggung jawab keluarga dengan mengharapkan makmur dan sejahtera bila rantai makanan tidak terputus. Itulah lambang burung garuda dalam arti pewarnaan bendera merah putih.

Alhamdullilah, setelah setahun mencari arti pemaknaan tersebut dari berbagai sumber dan media sosial Facebook.com lalu aku memiliki pertemanan dengan NASIONALISME-SUKARNOISME dan Love's Motivation sehingga aku mulai mengerti apa maksud dari bisikan batin tokoh idolaku yakni bapak Ir Soekarno RI satu sang proklamator tercinta.

Aku pun mencoba menerawang masa lampau. 

“Janganlah mengira kita semua sudah cukup berjasa dengan segi tiga warna. Selama masih ada ratap tangis di gubuk-gubuk pekerjaan kita belum selesai! Berjuanglah terus dengan mengucurkan sebanyak-banyak keringat.” (Pidato HUT Proklamasi, 1950 Bung Karno). 

 



 



“Aku Lebih suka lukisan Samudra yang bergelombangnya memukul, mengebu-gebu, dari pada lukisan sawah yang adem ayem tentrem, “Kadyo siniram wayu sewindu lawase” (Pidato HUT Proklamasi 1964 Bung Karno).


“Berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, berikan aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia” .




Penerawangan uang lama gambar pak Soekarno RI satu. '' Saudara - saudara "

36612_539414719437235_1191581872_n

Gambar ini setelah melewati penerawangan batin dari sosok lambang burung garuda, istilah kerennya melewati sinar X yang tembus pandang. Ternyata sang pemimpin kita dolonya ahli dalam persandian karna hal itu pula beliau menggambarkan perumusan yang  mengkisahkan sejarah dalam memperebutkan kemerdekaan terlihat gambar ‘’V” sehingga negara kita merdeka dan akan terlihat juga seperti paruh burung seakan nampak ‘’segitiga sedang terbang” dan penampakan “sebuah pelor peluru” ntu merupakan lambang serdadu yang turun kemedan pertempuran dalam memperjuangkan kemerdekaan sehingga berdaulat dan diakui dunia internasional.

Penerawangan 
Memang dalam wujud gambar sebenarnya hanya menengok kekanan dan hanya sebelah mata yang terlihat namun setelah penerawangan batin memiliki arti sedang menengok ke kanan dan kekiri. gambar " penampakan seperti paruh burung" memberikan kata kunci sandi bahwa Indonesia merupakan paru - paru dunia. Jika hutan  tempat hidup burung menjadi gundul, niscaya bumi pun akan tenggelam lalu terlihat juga cara mengantisipasinya dengan menerawang penampakan "segitiga seakan sedang terbang"  dan itu juga menjadi kata kunci dasar politik bebas aktif.

“Kita belum hidup dalam sinar bulan purnama, kita masih hidup di masa pancaroba, tetaplah bersemangat elang rajawali “. (Pidato HUT Proklamasi, 1949 Soekarno).

Pengkodean  gambar segitiga dan lingkaran merupakan suatu tindakan menghormati jasa para pahlawan yang telah gugur berani berjuang demi generasi penerus bangsa.  Persandian ini akan terus tersirat dalam mata uang beredar.

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya.” (Pidato Hari Pahlawan 10 Nop.1961).

“Firman Tuhan inilah gitaku, Firman Tuhan inilah harus menjadi Gitamu : “Innallahu la yu ghoiyiru ma bikaumin, hatta yu ghoiyiru ma biamfusihim”. ”Tuhan tidak merubah nasib sesuatu bangsa sebelum bangsa itu merubah nasibnya” (Pidato HUT Proklamasi, 1964 Bung Karno).

Singkat cerita. Ketika perang urat saraf berlangsung beribu – ribu bahkan lebih prajurit tewas diberondong peluru pesawat tempur. Bisa panas dingin semangat juang bila kita tidak punya iman. 

Namun ujung tombak bersejarah kemerdekaan sewaktu ketika sang fajar terbit menyongsong pagi saat matahari mulai bersinar dari ufuk timur belahan bumi. Terlihat seperti gambar “bebek yang terkena halilintar” sehingga pasukan pun berkobar semangat demi sebuah kata MERDEKA.

“Bebek berjalan berbondong-bondong, akan tetapi burung elang terbang sendirian.”

1173908_10200421611768331_2127696007_n


“Apabila di dalam diri seseorang masih ada rasa malu dan takut untuk berbuat suatu kebaikan, maka jaminan bagi orang tersebut adalah tidak akan bertemunya ia dengan kemajuan selangkah pun”.

“Janganlah melihat ke masa depan dengan mata buta! Masa yang lampau adalah berguna sekali untuk menjadi kaca bengala dari pada masa yang akan datang.” (Pidato HUT Proklamasi 1966, Soekarno).

“Laki-laki dan perempuan adalah sebagai dua sayapnya seekor burung. Jika dua sayap sama kuatnya, maka terbanglah burung itu sampai ke puncak yang setinggi-tingginya; jika patah satu dari pada dua sayap itu, maka tak dapatlah terbang burung itu sama sekali.” ( Sarinah, hlm 17/18 Bung Karno)

By : Sih miskin yg penyayang

Tidak ada komentar: