Minggu, 25 Agustus 2013

Opiniku Tentang Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dollar


230813. Beli Dollar di Bank Mandiri, BCA terus kalo mo jual Dollar di bank BCA, BII.

Semakin banyak permintaan Dollar di bank Mandiri, BCA semakin naik nilai tukar Dollar. Ada baiknya bank BCA, BII dan bank - bank lainnya harus bisa mengantisipasi keinginan internasional terhadap bunga bank yang mengiurkan, jangan sampai kelangkaan Dollar akibat kebijakan Moneter global. Lalu tugas BI harus bisa lebih irit menangani cadangan devisa negara. Ehm, Kalo begitu kita siapkan saja kuburan internasional disalah satu kepulauan kita. Pikiranku apakah akan ada investor yang berminat berinvestasi di NKRI neh, biar makin meningkat IHSG saham gabungan dan menguatkan Rupiah. Mimpi menstabilkan Dollar kisaran Rp 9.750 di thn 2014 sekarang saja Dollar hampir Rp 11.000,- sedang mencoba menstabilkan politik dan pertumbuhan ekonomi kita guna meningkatkan kesejahteraan bersama. Waduh tobat aku lagi tembus otaknye siapa coba?

Opo neh kui masih wajar, aman, tidak seperti negara laen. Nilai tengah Dollar sudah Rp 10.800,- per 240813. Penutupan perdagangan reksadana setiap sabtu jam 3 pagi mulai lagi senin - sabtu. Susun strategi, tetap semangat. Ayo selamatkan aset-aset negara yang tergadaikan.
                     
Nilai tukar rupiah terhadap Dollar Sekarang mendekati Rp 11.000,- Ini menandakan sektor kontraktor, industri macet karena tidak ada investor yang berminat dan otomatis PHK massal, kuli ngak ada kerjaannya termasuk saya. Namun beda dengan sektor perdagangan, pertanian karena kita mengimpor otomatis ingin biaya impor murah, hal ini tidqk diambil pusing investor yang mengekspor produk dari negara kita sperti bahan mentah tambang, gas alam, gerabah, keramik, bidang seni budaya. Intinya kalo kita impor pasti keinginan Dollar tinggi namun perekonomian kita terancam ketika tidak ada daya saing produk unggulan, yang aku khawatirkan suatu saat bila kita berperang pada kelaparan semua mengapa? karena kita ketergantungan impor langsung terima beres sedangkan kita masih punya utang luar negri sewaktu-waktu distop secara langsung produk langka harga menjadi sangat mahal. Hal pertama kita harus mewaspadai investor asing ataupun domestik yang mengetahui nilai BI rate tinggi. Istilah kata mereka kerja dinegaranya satu bulan sama dengan dinegara kita tiga bln lalu taruh uang dibank kita terus ketika kita sedang susah, Dollar langka lalu mereka dengan Dollar kembali kenegaranya atau disimpan disuatu pulau dengan sekutunya habislah kita dijajah secara tak langsung. Perhatikan Migrasi penduduk antar negara dan pulau dengan mempertimbangkan sumber daya alam dan kemampuan yang dimiliki. Mengapa tidak Euro, Ringgit, Sen, Pounsterling, dll karena Dollar lebih stabil, wong satelit mereka yang punya. Contoh kasus Ironis ketika gedung Gelora Bung Karno digadaikan apakah bisa menjamin rakyat adil makmur sentausa. Kapan sepak bola bisa menang, lari kesana kesini terpontang panting tetap aja kalah mungkin sudah perjanjian secara tertulis padahal biaya karcis kan lumayan. 

Kalo gak impor menuhinnya dari mana? Produksi dalam negri belum cukup buat menuhin. Harus dipikirkan.

Impor boleh saja asal tidak dikorupsi. Nah, untuk memenuhinya cari investor. Jangan salah loh, negri kita bisa memenuhi namun karna orang yang mampu doloan lebih senang invest diluar negri, kalo bagi mereka sambil refresing menikmati hasil kerja mengisi masa pensiun dari sana sebutan ekspor dikita sebutan impor padahal orang Indonesia. Permasalahan sekarang koruptor belum terus terang, pasti ada temannya tidak mungkin mereka bekerja sendirian. Otomatis investor ragu lebih baik menunggu pemilu, aman tidak beresiko namun perkiraanku penguatan Dollar akan terus terjadi karena banyaknya permintaan. Yups, betul memang produksi dalam negri belum memenuhi seperti minyak karena sekarang debit air lebih tinggi dari daratan akibat gletser mencair, namun bisa di pakai buat cadangan minyak dunia. Terus kalo impor daging, produk pangan sepertinya kita menghargai mereka yang telah invest di negara kita namun sekarang ladang tidak diproduksikan karena kondisi alam, ketimbang ngebor yang keluar lumpur. Menurutku subsidi BBM itu bisa disebut seperti berdagang. ya begitu deh kira - kira. Akurat, sistematis, ekonomis saat terkapar tidak berdaya dan matahari pun membumbung tinggi.

Orang besar terkena racun, ahli racun berkata hidup daging. Innalilahi wa inna ilahi rojiun.

Paket yang aneh. Mentoleransi nilai pajak namun impor tetap berjalan tanpa batas, artinya bisa-bisa engkau sajalah. Perkiraanku mampukah BI rate 7% menarik investor ketika Dollar Rp 12.000,- 

Rencana jangka pendekku berarti nabung deposito ah ntar ketika BI ratenya 7 %, mayan paling ngak naruh Rp 10.000.000,- bunganye sekitar Rp 80.000 – Rp 100.000 an per bulan seperti tahun 1998. Hixixixi..

Ehm, sekarang waktunya mengamati syarat pinjaman 5% dari pinjaman harus tersedia di bank dengan bunga flat 7% per tahun, grass priode 3 tahun lalu 3 tahun pertama bayar bunganya saja, tahun berikutnya baru bunga plus angsuran. Ouw, berarti investor memprediksi setelah sepuluh tahun, baru menyikapi aksi ambil untung karena pergantian kepemimpinan, yang penting aman terkendali buat sang investor.

Aku bukan ahli ekonomi dan tidak tahu urusan politik, yang aku mau kepastian dan ketenangan menikmati masa mudaku. I Love Indonesia.

Tidak ada komentar: