Minggu, 24 November 2013

Web Tak Boleh Abaikan Unsur Kelayakan Berita

WATES (KRjogja.com) - Pengelola website dituntut bisa menayangkan informasi lebih cepat dari media cetak. Namun demikian sistem penyajian berita melalui siber (media yang menggunakan internet) tersebut tidak boleh mengabaikan Peraturan Dewan Pers tentang Pedoman Pemberitaan Media Siber, UU Pers dan Standar Perusahaan Pers.

"Laporan tercepat dari suatu peristiwa faktual, penting dan menarik bagi pembaca memang sebuah keharusan dalam sistem pengelolaan media siber. Tapi jangan pula pengelolanya mengabaikan standar bahasa dan kelayakan berita 'fit to print' yang akan ditayangkan," kata Redaktur Pelaksana SKH Kedaulatan Rakyat Drs Hudono SH saat jadi pembicara tunggal Pelatihan Jurnalistik di Kantor Kementerian Agama Kulonprogo, Rabu (30/10/2013).


Pelatihan dibuka Kasubag TU Kantor Kemenag setempat Drs H Jauhar Mustofa dan dimoderatori Agung Mabruri serta diikuti 30 pengelola Web Kemenag dan Web KUA se-Kulonprogo.


Dikatakan, dalam penayangan sebuah berita memang harus memenuhi unsur atau nilai berita yakni ketepatan waktu (aktual), faktual (nyata), penting dan menarik. "Kalau sebuah berita dipaksakan penayangannya hanya karena untuk memenuhi unsur aktual tapi mengabaikan kelayakan berita tentu akan menimbulkan masalah. Sebab yang membaca web sangat mungkin semua kalangan dan tidak terbatas umur. Sehingga kalau tidak hati-hati akan berpengaruh negatif bagi masyarakat pembaca," jelasnya.


Guna menghindari masalah tersebut maka dalam pengelolaan web harus ada editor, mengedit atau menyunting berita sebelum ditayangkan. "Editor sangat menentukan sebuah berita layak ditayangkan atau tidak. Selain itu pengelola juga harus menyiapkan ruang bagi pembaca untuk menyampaikan sanggahan atau hak jawab atas berita yang ditayangkan. Sebagian besar pengelola web belum mengetahui kalau di sebuah web harus menyiapkan ruang tersebut untuk memberi kesempatan kepada para pihak yang terkait menyampaikan hak jawab," terangnya.


Sementara agar tidak merepotkan dan menguras tenaga serta pikiran pembaca, maka tulisan yang ditayangkan harus lengkap dan mampu menjawab semua pertanyaan pembaca. "Fenomena yang berkembang saat ini yang penting halaman web terisi, padahal jurnalistik bukan hanya sekadar mengisi lembaran-lembaran kosong tanpa makna," ujarnya.


Jauhar Mustofa MSi mengatakan, pelatihan jurnalistik di lingkungan Kantor Kemenag Kulonprogo merupakan kali pertama. Pihaknya berharap peserta memanfaatkan secara maksimal pelatihan tersebut untuk menggali ilmu dari orang yang memiliki kompetensi dibidang jurnalistik seperti Hudono sehingga bisa menerapkannya dalam mengelola web. "Dengan demikian web Kemenag akan semakin baik dan berkualitas," harapnya. (Rul)

http://krjogja.com/read/192075/web-tak-boleh-abaikan-unsur-kelayakan-berita.kr

Tidak ada komentar: